Arrow
Arrow
group-photo-after-journalism-workshop
Slider

Damai, Tanggung Jawab Siapa? (bag.1)

Pagi yang mendung, suhu berkisar -3 derajat Celcius, setelah selesai sarapan sekitar 150 peserta dari 13 negara menaiki bis yang telah disiapkan oleh panitia pengurus beasiswa CCIP tepat di depan hotel New Yorker Wyndham, pusat kota New York. Selama satu minggu kami mengikuti kegiatan Mid-year Retreat 2016. Kegiatan ini dikelolah oleh Northern Virginia Community College (NOVA) di bawah naungan Community College Consortium. Aktifitasnya berada di empat kota: Alexandria, Washington D.C., Philadelphia dan yang terakhir di New York. Beragam kegiatan, mulai dari workshop, diskusi panel hingga tur ke tempat-tempat bersejarah di Amerika. Agenda kami hari itu (14/01) mengunjungi kantor perwakilan Amerika untuk misi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan melanjutkan ke kantor pusat PBB di New York.

PBB

Staf PBB memberikan penjelasan di salah satu ruang pertemuan gedung pusat PBB, New York

Saat berdiskusi dengan dua orang staf di kantor perwakilan Amerika untuk PBB dan sekaligus tanya-jawab dengan salah seorang staf berkebangsaan Itali yang sudah lama bekerja di PBB, pikiran saya bergejolak. Kenapa untuk mencapai sebuah perdamaian yang berdampak harmonis bagi banyak orang selalu membutuhkan waktu, tenaga bahkan biaya yang tidak sedikit. Dilansir oleh website resmi PBB, biaya operasional untuk menjaga perdamaian periode 1 Juli 2015-30 Juni 2016 berkisar $8,27 miliar. Negara penyumbang terbesar untuk PBB adalah Amerika (28,38%), Jepang (10,83) dan Perancis (7,22%). Jika diuraikan per-bulan biaya yang dikeluarkan oleh PBB berkisar $689 juta, atau Rp. 959 triliun.

Perang dan kekerasan yang terjadi tiap hari di berbagai belahan dunia termasuk indonesia disebabkan oleh konflik. Sehari sebelumnya kami mengikuti workshop Conflict Resolution, Religious Tolerance, Cultural Awareness and Compotence oleh David Smith, pakar konflik internasional juga seorang profesor di universitas terkemuka di Virginia, George Mason University. Beliau menyampaikan ungkapan yang menurut saya unik, bahwa setiap konflik yang terjadi tidak selamanya buruk, karena konflik juga adalah sebuah upaya untuk melakukan perubahan. Konotasi kata “konflik” kadang terlihat menyeramkan namun tidak selamanya terkait dengan kontak fisik yang berujung pada kekerasan. Konflik terjadi karena (1) perbedaan individu, (2) berbedaan budaya atau kebiasaan dalam masyarakat, (3) perselisihan kepentingan dan (4) perubahan sosial. Marthin Luther King Jr., tokoh pejuang hak asasi manusia di Amerika mengatakan, “the hottest place in Hell is reserved for those who remain neutral in times of great moral conflict”. (bersambung)

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *