Arrow
Arrow
group-photo-after-journalism-workshop
Slider

Damai, Tanggung Jawab Siapa? (bag.2)

Setiap orang yang sadar akan hak mereka untuk hidup di bumi ini pasti tidak ingin terkekang atau didiskriminasi oleh batas-batasan suku, agama, ras atau antar golongan (SARA), dan secara alamiah pasti akan berteriak menginginkan perubahan. Awal mulanya konflik yang berujung pada kekerasan biasanya dimulai dengan niat baik untuk menginginkan perubahan di sebuah tempat atau bahkan negara. Niat mulia perubahan kadang agak kabur jika sudah memasuki arena keserakahan dari seorang pemimpin yang berpikiran diktator yang menginginkan segala sesuatu sesuai dengan keinginanya. Skenario perubahan bahkan kehilangan makna jika SARA dan kekerasan dijadikan sebagai alat untuk melakukan revolusi kebaikan. Perang terjadi dimana – mana dan di beberapa tempat di berbagai belahan dunia situasi bertambah buruk, memakan banyak korban jiwa khususnya masyarakat sipil yang hanya memiliki mimpi sederhana untuk hidup damai bersama keluarga kecil mereka.

Jauh sebelum negara kita mengumandangkan pidato kenegaraan bahwa kita telah merdeka, konsep diplomasi sudah tertanam di jiwa nenek-moyang bangsa ini untuk selalu bermusyawarah dalam mencapai sebuah mufakat. Agama yang kita miliki seyogyanya adalah sebuah anugerah yang digunakan untuk pengendalian diri, dan saya percaya mengajarkan kebaikan untuk setiap manusia di bumi. Konflik adalah perwujudan bahwa kita memang beragam antar individu maupun kelompok dan sadar akan pentingnya perubahan yang baik di dalam hidup bermasyarakat. Namun jika terjadi konflik yang berujung pada saling benci antar dua individu atau kelompok yang berbeda pendapat, tanggung-jawab siapa untuk menyelesaikan? Polisi, Pengadilan, Pemerintah atau PBB?

Saya sadar konflik yang berujung pada kekerasan bukanlah pekerjaan gampang yang bisa diselesaikan semalam. Apalagi khususnya di wilayah bekas konflik di Maluku dan Maluku Utara yang sudah pernah mengalami situasi terburuk karena konflik SARA. Trauma karena konflik kadangkala menimbulkan stereotype terhadap suku atau agama tertentu, yang kebanyakan adalah tidak benar. Jadikan pengalaman konflik beberapa tahun lalu sebagai bahan pembelajaran penting agar generasi kedepan tidak perlu merasakan hal yang sama. Sudah cukup jauh kita tertinggal, jika masih sibuk dengan urusan agama dan suku berarti kita balik lagi ke tahun-tahun sebelumnya, sementara provinsi bahkan negara lain sudah semakin maju kita malah melangkah mundur. Jika ada salah mari duduk sama-sama kita bermusyawarah, konflik karena beda pendapat tidak mungkin dihindari namun kekerasan sebelum berdiskusi bukan gaya kita. Jangan menghalangi rasa untuk berbagi karena kita berbeda, Tuhan ciptakan kita berwarna-warni agar hidup ini tidak membosankan. Mari jaga torang pe daerah tetap aman! Marimoi Ngone Futuru! (Facebook: Glend)

 

Tarian Daerah Halmahera Utara

Tarian Cakalele anak – anak SD di Halmahera Utara (foto: www.halmaherautara.com)

 

 

Referensi:

Biaya Fiskal PBB Periode Juli 2015-Juni 2016 (un.org)

Penyebab Konflik (http://www.sociologydiscussion.com/)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *