Arrow
Arrow
group-photo-after-journalism-workshop
Slider

Miskin BerMIMPI

Bebarapa hari lalu saat perjalanan di bis dengan seorang teman, saya bercerita panjang lebar tentang tahap-tahap duka cita hingga bisa menginjakan kaki di Amerika. Meskipun pengalaman melalang-buana dan mendapatkan beasiswa khusus untuk “exchange program” bukan kali yang pertama ke negara-negara barat, namun beasiswa Community College Initiative (CCI) yang paling berkesan, apalagi kuliah di negara tempat dari mayoritas universitas terkemuka di dunia (Top Ten World University Ranking 2015-2016: California Institute of Technology, Stanford University, MIT, Harvard, Princeton and University of Chicago).

Saya bertutur sembari mengingat, beberapa tahun lalu, tahun tahun yang lalu saat baru saja lulus SMA. Saya hanya duduk di selokan pinggiran jalan raya kota kecil di bagian paling utara kepulauan Maluku, Tobelo. Duduk bukan untuk bersenda gurau dengan teman-teman, tapi sebagai kuli bangunan, kotor penuh debu sambil pelan-pelan mengangkat tanah dengan sekop. Sinar matahari yang panas hampir membakar kulit, rasanya ingin cepat-cepat pulang, menderita? Tidak juga dibandingkan dengan tertawa menyindir dari teman-teman sebaya yang lewat sambil melihat ke arah saya, malu sangat malu, tapi saya percaya dan berMIMPI suatu saat bisa lebih baik dari mereka. Ayah saya yang juga adalah seorang buruh kasar selalu berkata “belajarlah untuk hidup susah agar kau tidak kesulitan saat benar-benar susah”. Dialah yang selalu meminta saya untuk bekerja di bangunan, permintaan aneh yang kadang bikin risih. Tapi saat bekerja sebagai kuli bangunan, saya belajar banyak hal: bekerja keras karena kalau lambat mungkin akan dikeluarkan atau dipotong gaji, belajar bekerja dalam tim yang rata-rata para senior dan juga sabar karena tidak setiap hari menerima uang hasil kerja berat. Kalo dihitung-hitung menjadi kuli bangunan bukanlah yang pertama, saya juga pernah bekerja di toko kelontong hingga kerja yang agak keren sebagai penyiar radio semasa kuliah pernah dilakoni.

20160114_150106

Foto penulis di gedung pusat PBB, New York, USA

Maluku Utara memang tidak seperti Amerika, beda jauh seperti satelit di luar angkasa dengan rumah kebun di hutan Halmahera, namun apakah karena kita orang “kecil” tidak bisa berMIMPI besar?  Sebagai manusia pasti kita kerap kali merasa pesimis, sayapun demikian. Saat masih di Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya sempat bingung karena kondisi konflik di Maluku Utara. Pandangan saya kedepan untuk melanjutkan sekolah pada saat itu sangat buram karena bunyi letusan bom dimana-mana, rumah yang terbakar bahkan sekolahpun yang tidak ada salah ikut dirusak. Saya berada di suatu titik dimana sangat tidak berpengharapan untuk sekolah. Saya merasa bersyukur lahir dan besar di Maluku Utara yang memiliki alam luar biasa, pulau-pulau, pantai dan hutan terlebih khusus karena memiliki orang-orang luar biasa, yang karakter mereka seperti batu karang yang sulit diterjang ombak, keluarga dan teman-teman yang adalah para peMIMPI. Meskipun pernah berada dalam masa-masa suram karena konflik dan hidup di keluarga yang sederhana namun karena itulah saya bisa memaknai lebih dalam tentang apa arti bekerja keras dan tetap berjuang akan hidup yang lebih baik.

Jangan pernah menganggap kita tidak bisa jika belum pernah mencoba. Jika kita tidak berupaya mencoba melakukan sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan oleh banyak orang jangan pernah mengatakan tidak mungkin. Jangan pernah berhenti meskipun Anda hanya orang biasa dari kampung yang orang-tua hanyalah petani atau kuli bangunan. Saya tidak berada dalam posisi sebagai panutan karena toh’ sayapun masih punya banyak impian yang belum terkabulkan, tapi marilah sama-sama berharap untuk sesuatu yang lebih baik kedepan! (Facebook: Glend)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *