Arrow
Arrow
group-photo-after-journalism-workshop
Slider

“Mission Impossible” di Holland (1)

Tulisan ini sebenarnya sudah cukup lama ingin dimuat namun karena keterbatasan waktu dan karena usulan dari salah satu mantan dosen saya, yang juga pernah mengikuti program yang sama, ibu Ane, saya kemudian termotivasi untuk menyelesaikanya.
Bu Ane_Facebook Comment

Pertengahan tahun 2013, tepatnya bulan Juni saya mendapatkan beasiswa dari Kementrian Infrastruktur dan Lingkungan Belanda melalui International Programme on the Managament of Sustainability (IPMS) untuk mengikuti workshop internasional di hotel Bergse Bossen, Driebergen, Utrecht. Beasiswa yang didapatkaan berkisar €6,300, mencakup tinggal di hotel yang lumayan mahal di Belanda dan makan ala orang kelas atas selama seminggu. Sayangnya, beasiswa ini tidak mencakup tiket pesawat pulang pergi dan kebutuhan lainya misalnya asuransi yang sangat dibutuhkan untuk pengurusan visa Schengen. Kenapa saya sebut ke Belanda adalah misi yang mustahil karena memang di saat itu saya tidak punya uang sama sekali untuk membeli tiket pesawat dan kebutuhan-kebutuhan lain yang totalnya berkisar Rp. 25 juta lebih. Sangat frustasi karena beasiswa sudah didapatkan namun visa belum juga diurus, untuk pengurusan visa minimal sudah harus ada tiket dan tiketpun tidak ada sama sekali. Jangka waktu disaat itu hanya berkisar tiga minggu untuk menetapkan pergi atau tidak. Saya bukanlah orang yang sangat religius tapi saya percaya kekuatan doa, dan berkayakinan bahwa Tuhan itu ada dan selalu mendengar disaat kita butuh bahkan saat dalam situasi yang  kritis dan tidak ada jalan keluar sama sekali. Waktu hanya berkisar dua minggu untuk ke Jakarta dan pengurusan visa dan semuanya dijawab Tuhan, tiket saya dibantu oleh orang yang saya tidak akan pernah lupa jasanya, tiket pesawat ke Jakarta di bantu oleh perusahaan saya (terimakasih untuk pak Erry, ibu Wulan dan pak Memeth). Saat di Jakarta untuk pengurusan visa karena keterbatasan dana, saya menginap di teman baik semasa SMA di Tobelo yang sampai sekarang masih di Jakarta, bung Yodi Bidori, terima kasih untuk jasanya menampung saya di rumah dan sambil mengantar bolak-balik jalanan Jakarta hanya untuk mencari lokasi kedutaan Belanda, tempat pengurusan visa.

100_2246

Passport + visa, tiket pesawat, asuransi perjalanan dan dokumen pendukung

Menghadap ke kedutaan Belanda-pun tidak kalah seramnya, apalagi jika mengurus sendiri, sekali lagi hanya dengan kemurahan Tuhan semuanya bisa berjalan dengan baik. Karena setelah sempat ditanya-tanya sesaat di konter kedutaan, saya kemudian diminta balik keesokan harinya untuk mengambil visa yang sudah ditempelkan di passport. Lega rasanya dengan waktu yang kurang dari dua minggu saya akhirnya bisa berangkat dengan cap resmi visa schengen di passport. Keberangkatan saya dengan pesawat Malaysia Airlines dari bandara Soetta-Kuala Lumpur Int. Airport-Schipol Amsterdam berkisar 15 jam. Setelah sekitar jam 7 pagi tiba di Amsterdam, saya dijemput oleh seorang teman, Jan untuk menginap di rumahnya. Saya baru sadar ternyata apartemen Jan berada tepat di pusat kota Amsterdam dan tepat berada di jalur Red Light District, pusat prostitusi yang terkenal di daratan Eropa. Hampir setiap hari suara turis yang berkeliaran membuat saya tidak bisa tidur karena lokasi apartemen yang tepat berada di pusat kota.

100_2264

Hari pertama di Holland

100_2461

Tiket kereta api

Setelah beberapa hari, saya kemudian melanjutkan ke hotel tempat kami melakukan workshop dari stasiun Amsterdam ke Driebergen-Zeist berkisar 50 menit menggunakan kereta api. Kondisi yang sangat nyaman, informasi yang jelas di dalam kereta api dan hampir setiap warga Belanda mulai dari anak kecil hingga nenek-nenek bisa berbahasa Inggris dengan sangat baik membuat saya tertolong, dan tidak hilang di negeri yang sempat menjajah bangsa kita ini. Saat tiba di hotel sudah ada beberapa peserta yang tiba, kebanyakan dari Belanda. Kegiatan ini mulai dari tanggal 9-16 Juni 2013, dan fokus terhadap pengelolaan yang berkelanjutan melalui metode diplomasi yang efektif dengan multi-pihak, pemerintah, LSM dan pengusaha. Kegiatanya sangat bermanfaat karena mengikuti model di Perserikatan Bangsa Bangsa, selain daripada itu rata-rata instruktur yang mengajar memang sudah perpengalaman untuk negosiasi atau diplomasi tingkat internasional termasuk di level PBB. Instruktur yang mengajar tidak hanya dari Belanda tapi juga dari Rusia dan beberapa dari Fletcher School di Amerika. Peserta yang mengikuti kegiatan ini dari bermacam-macam negara, Perancis, Moldova, Zambia, Brazil, Colombia, Nigeria, Kanada, Nepal dan saya sendiri dari Indonesia tepatnya dari pelosok kepulauan Maluku. Jika ada dari teman-teman yang berminat bisa langsung ke website IPMS (klik disini). Saran saya baca persyaratan dan aplikasinya kemudian silahkan bertanya jika ada yang ingin ditanyakan. (lanjut ke bag. 2)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

2 Responses

  1. anenamotemo says:

    I’m enjoying reading this Glend, and also happy to find you’ve written the second part in Holland

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *