Arrow
Arrow
group-photo-after-journalism-workshop
Slider

Beradaptasi di Negara Baru

Saya tertarik menulis tentang “cultural adaptation” atau adaptasi kebudayaan karena sangat penting untuk diketahui dan dipahami khususnya untuk teman-teman yang berniat kuliah di luar negeri dan tinggal dengan jangka waktu yang lebih dari 5 bulan. Dalam istilah komunikasi disebut sebagai sojourners atau sesorang yang tinggal di suatu negara dalam waktu singkat, misalnya turis atau mahasiswa yang kuliah selama beberapa semester. Adaptasi kebudayaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “perubahan dalam unsur kebudayaan yang menyebabkan unsur tersebut dapat berfungsi lebih baik dalam lingkunganya”. Atau yang saya pahami, adaptasi kebudayaan adalah sebuah proses penyesuaian seseorang terhadap budaya/kebiasaan yang berbeda dari tempat asalnya. Saya contohkan pertama kali datang di Amerika, sulit bagi kami untuk meminum air langsung dari tap, apalagi rasa airnya sangat berbeda dengan di Indonesia. Butuh beberapa bulan untuk bisa menyesuaikan, pada awalnya kami harus membeli berbotol-botol minuman kemasan, hingga uang terkuras hanya untuk membeli air putih.

Tulisan ini juga terinspirasi dari mata kuliah Intercultural Communication tentang pentingnya memahami proses adaptasi yang terjadi sebelum tiba di negara tujuan agar kita lebih siap. Ada 4 tahapan yang dikenal dengan teori “U-Curve”. Tahap-tahapanya sebagai berikut:

  1. Tahap Honeymoon. Tahu kan kalo pasangan yang baru menikah dan bulan madu? semua terasa indah. Nah’ di tahap ini awal-awal saat kita tiba di negara tempat kuliah, semua terasa menakjubkan! Lingkungan baru, orang-orang dengan warna yang berbeda-beda sampai dengan sibuk posting foto di Facebook atau Instagram tiap hari.
  2. Tahap Culture Shock. Di tahapan ini kita mulai terkejut atau merasa kebingunan dengan lingkungan yang baru. Saya contohkan misalnya pola komunikasi antara mahasiswa dan dosen di kampus Amerika hampir tidak ada batasan, kadang membuat kita yang sudah terbiasa dengan proses 3D1A (Duduk Diam Dapat A) menjadi susah untuk beradaptasi di kelas. Di kelas Amerika Anda akan diminta untuk aktif memberikan respon, komentar, tanggapan atau bahkan mengoreksi dosen saat berbicara di kelas. Contoh yang lain, yang sampai sekarang saya sendiri agak berat hati kalau makan di restoran karena di Amerika kita wajib memberikan tip yang besaranya bervariasi antara 10%-20%. Misalnya jika Anda makan di salah satu restoran dan harga dari makanan besaranya $20, minimal harus memberikan tip sebesar $2 (10%) kepada pelayan restoran.
  3. Tahap Recovery. Di tahap ini kita sudah mulai terbiasa sedikit demi sedikit dengan lingkungan kita yang baru. Mulai bisa berdiskusi dengan dosen-dosen dan teman-teman di kelas, terbiasa dengan makan pizza setiap hari dan sudah bisa beradaptasi dengan cuaca yang sangat berbeda dari tempat asal kita.
  4. Tahap Final. Di tahapan yang akhir ini kita sudah bisa menyesuaikan bahkan menikmati pola hidup yang baru.

 

cultural-adaptation-curve

Teori U-Curve

 

Setiap tahapan ini bisa memakan waktu berbulan-bulan. Saya sendiri merasakan tahap-tahap yang dijelaskan diatas. Tahapan yang menurut saya paling penting agar kita menyiapkan diri sebaik mungkin adalah culture shock, karena situasi ini dapat berdampak terhadap psikologi yang dapat mengganggu hubungan kita terhadap orang-orang disekitar yang berbeda karakter, terlebih lagi dapat menurunkan produktifitas perkuliahan di kampus karena tidak siap dengan lingkungan yang baru. Saya lampirkan juga salah satu video yang menjelaskan 25 hal tentang Amerika. Good luck kawan! (Facebook: Glend)

 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

4 Responses

  1. Admin says:

    Walaupun Kuliah hanya di negara sendiri bukan berarti torang tidak harus belajar Budaya Orang….. Ini lah problem di mana kita khususnya orang Timur Indonesia kebanyakan acuh tau bahkan tak sama skali untuk mau belajar Budaya Orang yang akhirnya Budaya kasar (Buruk) kita yang seharunya di tinggalkan malah di bawah di tanah rantau (Budaya Minum Cap Tikus, Budaya Pukul Orang, Budaya Carita Orang ”Carlota” dll) yang pada akhirnya torang tetap berada di bawah dan tara maju2

    • Hi Michael, salam kenal. Iya tdk hanya di luar negeri, di Indonesia-pun banyak mhasiswa dr Indo Timur yg kadang susah beradaptasi di daerah lain krn faktor budaya yg berbeda, hasilnya gagal melanjutkan kuliah & dr sisi ekonomi pasti akan berdampak jg krn ortu sdh mngeluarkan bnyak uang. Budaya atau sebuah kebiasaan bisa dilakukan penyesuaian dan diubah tergantung dr perspekif jg niat dr individu, jk tujuanya baik maka dlm proses utk mencapai tujuan harus jg dilakukan sebaik mgk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *