Arrow
Arrow
group-photo-after-journalism-workshop
Slider

Belajar Tambang di Arizona Historical Society Museum (bag. 1)

Negara bagian Arizona terkenal dengan “5 C’s” (Copper: tembaga, Cattle: peternakan, Cotton: kapas, Citrus: jeruk dan Climate: iklim). Setiap mahasiswa yang kuliah disini pasti merasakan 5C ini, saya pun demikian. Merasa sangat beruntung tinggal di Arizona dengan iklim yang stabil. Tidak terlalu dingin saat winter dan saat summer, panasnya-pun lumayan untuk anak pulau seperti saya yang cenderung kepanasan tiap saat di Halmahera. Ditambah lagi yang menarik juga disini adalah pohon jeruk bertebaran di pekarangan rumah warga saat masuk musim semi, seringkali
diberikan gratis. Pada hari Sabtu kemarin (3/19), saya berkesempatan belajar secara langsung sejarah perkembangan pertambangan di Arizona Historical Society museum yang berada di kota Tempe. Adapun di museum ini tidak hanya tentang tambang tapi banyak informasi yang berkaitan langsung dengan sejarah lampau Arizona. Misalnya sejarah awal perencanaan kota-kota di Arizona, dan salah satu sejarah kelam pemerintah Amerika memindahkan seluruh warga Amerika keturunan Jepang di kamp-kamp yang diawasi oleh pemerintah pada periode tahun 1942-1946, hal ini terjadi setelah Pearl Harbor di bom Jepang beberapa bulan sebelumnya, tanggal 7 Desember 1941.

20160319_114605

Foto Ira Hayes, satu-satunya suku Indian dari Arizona yang berada di foto fenomenal mendirikan bendera Amerika di Iwo Jima, Jepang

Namun karena ketertarikan saya pada dunia pertambangan khususnya hubungan masyarakat dan perusahaan tambang, jadi lingkupan pembahasan lebih banyak terkait hal ini. Negara bagian Arizona adalah pusat pertambangan tembaga sejak abad ke 19. Negara bagian yang disebut sebagi the Grand Canyon State ini memproduksi sekitar 750 ribu metrik ton tembaga senilai $5.54 miliar sehingga menjadikan Arizona sebagai pemasok utama produksi tembaga di Amerika Serikat dengan presentasi 60%. Namun sebagaimana perusahaan tambang di berbagai penjuru dunia, pasti ada saja konflik yang terjadi, khususnya dengan suku asli yang sudah lama menetap disini. Jauh sebelum Christoper Collombus disebut-sebut sebagai “penemu” benua Amerika. Pada tahun 1535 seorang penjelajah Spanyol, Alvar Nunez Cabaza de Vaca yang mendengar rumor tentang kota emas pertama kali mengunjungi wilayah ini untuk melakukan eksplorasi dan kontak dengan penduduk lokal. Setelah itu berbagai perusahaan tambang melakukan eksplorasi di wilayah-wilayah yang masih termasuk dalam tanah adat suku Indian. Suku Indian atau native americans terbagi sesuai dengan wilayah mereka, saya berikan contoh beberapa suku Indian di Arizona: Yavapai, Maricopa, Pima, Navajo, atau yang paling familiar untuk kita di Indonesia karena sering ditayangkan di film-film Hollywood terkait dengan kemampuan berperang mereka, yakni suku Apache. Suku Apache di jaman dahulu selalu berpindah-pindah dan sangat terkenal lihai dalam berperang meskipun hanya menggunakan senjata tradisional. (bersambung ke bag. 2)

20160319_105641

Patung pejuang Apache (kedua dari kanan)

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *