Arrow
Arrow
group-photo-after-journalism-workshop
Slider

Belajar Tambang di Arizona Historical Society Museum (bag. 2)

Secara umum suku Indian sangat terkenal dengan kehidupan harmonis dengan alam dan mengsakralkan beberapa lokasi yang menurut mereka sangat penting untuk dijaga karena peninggalan dari nenek moyang. Pada tahun 1863 suku Apache menyerang dan membunuh beberapa penambang di dekat lokasi mereka, kemudian setahun setelah itu 1864, suku Indian yang lain Maricopa dan Pima yang juga berada di wilayah Arizona direkrut oleh pemerintah Amerika untuk melakukan survey dilokasi yang sangat berbahaya pada saat itu karena berdekatan dengan kawasan Apache. Di pagi hari tepatnya tanggal 24 Januari 1864 mereka dikepung oleh sekitar 250 anggota dari suku Apache, karena memasuki kawasan mereka. Negosiasi coba dilakukan oleh salah satu perwakilan utusan dari pemerintah Amerika namun akhirnya terjadi konflik yang mengakibatkan 19 orang dari pihak Apache meninggal, ditembak oleh pasukan Indian yang dijadikan sukarelawan bersenjata oleh pemerintah Amerika. Bertahun-tahun konflik ini terjadi karena perebutan wilayah dan sumber daya alam yang melibatkan suku-suku Indian, imigran dari Meksiko yang bekerja sebagai penambang dan khususnya para pemilik bisnis yang rata-rata warga kulit putih Amerika, tidak terhitung banyak nyawa dan materi yang dikorbankan. Sampai sekarang-pun masih terjadi demonstrasi dari suku Indian kepada perusahan-perusahaan yang akan beroperasi di wilayah mereka.

20160319_112426

Model penambangan tembaga di Arizona

Cerita ini adalah gambaran singkat tentang pengembangan perusahaan-perusahaan tambang yang mungkin dapat menjadi refleksi pembelajaran untuk kita di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan beberapa daerah dengan potensi pertambangan, seperti di Kalimantan, Sulawesi, Papua atau bahkan di wilayah kepulauan Maluku. Tidak bisa dipungkiri bahwa bisnis pertambangan adalah investasi yang membutuhkan modal besar, resiko yang besar karena harga komoditas seperti nikel dan emas tergantung dari harga pasar dunia,  juga kerapkali masyarakat atau bahkan pemerintah terlampau berpengharapan besar terhadap perusahaan tambang. Padahal semestinya kesempatan investasi tambang bisa digunakan secara bijak untuk pengembangan daerah kedepan, khususnya di bidang pendidikan. Seberaba hebat sumber daya alam yang kita miliki suatu saat akan habis terkuras tapi jika diseimbangkan dengan peningkatan sumber daya manusia lokal, mungkin suatu saat kita hanya membutuhkan modal SDM untuk pengembangan daerah yang lebih baik kedepan.

Seperti negara-negara maju di Asia: Singapura dan Korea Selatan. Tidak ada yang tidak mungkin jika pemerintah dan masyarakat bekerja sama mendorong pendidikan di daerah agar lebih maju. Iya, pemerintah dan masyarakat, karena pendidikan bukan hanya tanggung-jawab pemerintah. Masyarakat atau dalam skala terkecil, keluarga memiliki peran penting memotivasi anggota keluarga agar berupaya untuk memprioritaskan pendidikan. Minimal Diploma tapi jika terlanjur asyik kuliah yah bisa dapat Master. Saya contohkan Korea merayakan kemerdekaan mereka tiga tahun setelah Indonesia merdeka, pada 15 Agustus 1948 dan pernah menjadi salah satu negara termiskin di dunia tapi dengan sistem pendidikan yang baik, ditambah dorongan yang kuat dari keluarga kepada anak-anak mereka untuk sekolah dan melanjutkan pendidikan ke level yang lebih tinggi. Lihat saja sekarang mereka jauh di depan, bahkan setara dengan negara-negara maju lainya di dunia. Mungkin masih lama kita di Maluku bisa mencapai hal itu namun paling tidak kita sudah memulai, memulai berpikir, memulai menghasut orang-orang disekitar kita untuk berkuliah di luar negeri dan segala sesuatu akan indah pada waktunya. (Facebook: Glend)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *