Arrow
Arrow
group-photo-after-journalism-workshop
Slider

Mengincar S3 di Beasiswa AAS

Maaf untuk Sahabat KAHERA jika edisi bulan April agak terlambat dari biasanya. Khusus untuk bulan ini kami melakukan interview dengan kak’ Ane Namotemo yang berasal dari Tobelo, Kab. Halmahera Utara. Beliau baru saja mendapatkan beasiswa Doktor/S3 melalui beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS), dan rencananya akan melanjutkan S3 di Griffith University, Queensland di fakultas International Business & Asian Studies. Fokus bidang yang akan diambil adalah studi NGO di Indonesia. Kami mengajukan beberapa pertanyaan kepada kak’ Ane sebagai berikut:

KAHERA: mohon dijelaskan latar belakang kak’ Ane dan jenis beasiswa yang didapat?

Kak’ Ane: saya sekarang ini bekerja di sebuah yayasan lokal di Tobelo, provinsi Maluku Utara yang berfokus dalam bidang pendidikan, sebelumnya saya bekerja sebagai dosen kurang lebih 7 tahun. Beasiswa yang saya dapatkan adalah Australia Awards Scholarship (AAS) 2017 untuk studi S3.

KAHERA: bagaimana prosesnya dan apa yang dibutuhkan untuk melamar beasiswa ini?

Kak’ Ane: prosesnya dimulai dengan pengiriman berkas dan lamaran secara online sejak Maret 2016. Setelah dinyatakan lolos saya ikut seleksi lagi melalui interview dan tes IELTS sebagai seleksi terakhir. Hasil pengunguman biasanya diumumkan paling lambat 1 bulan setelah diwawancara. Skill penting yang dibutuhkan adalah kemampuan Bahasa Inggris sesuai standar masuk program paska sarjana di Australia yang mensyaratkan minimal skor IELTS 6,5 dan tidak ada skor dibawah 6.

KAHERA: kenapa kak’ Ane memilih Australia untuk melanjutkan pendidikan bukan negara lain?

Kak’ Ane: alasan saya memilihn Australia, pertama adalah jaraknya yang dekat dengan Indonesia dibandingkan Amerika atau negara lain. Kemudian karena saya sudah berkeluarga, ada kemungkinan suami saya ikut studi. Selain daripada itu, biaya untuk keluarga yang berkunjung atau sebaliknya masih lebih murah dibandingkan ke negara lain. Kedua, karena saya ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas juga memperluas network. Banyak kampus-kampus di Australia sudah memiliki reputasi dunia. Kemudian jika dibandingkan beasiswa lain seperti Fulbright, beasiswa AAS untuk S3 memiliki masa berlaku yang lebih panjang yakni bisa hingga 4 tahun dan Fulbright hanya 3 tahun, sementara studi S3 rata – rata bisa selesai dalam 3,5 – 4 tahun. Alasan lainya adalah jika dibandingkan dengan beasiswa lain seperti LPDP maupun Fulbright, AAS mempersiapkan setiap penerima beasiswa dengan jangka waktu yang lama sebelum diberangkatkan, misalnya Pre-departure Training. Fulbright biasanya hanya 3 hari sedangkan AAS paling cepat 3 bulan, paling lama 9 bulan. Bukan saja Bahasa Inggris yang ditingkatkan tetapi juga keterampilan akademik, terutama dalam hal menulis. Skill ini biasanya menjadi momok bagi mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar – negeri karena tidak terbiasa menulis tulisan ilmiah, sedangkan rata – rata universitas – universitas luar negeri sangat menekankan hal ini.

KAHERA: pesan – pesan untuk para generasi muda di Maluku Utara yang berniat kuliah di luar negeri?

It takes good preparation to handle an opportunity, so if you have a big dream, make a plan and take your action from now because the result never betrays the process.

Silahkan cek blog kak’ Ane di: anenamotemo.wordpress.com

Atau add di Facebook: Ane Namotemo

Kak' Ane

Kak’ Ane di tengah, diantara dua adiknya

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

2 Responses

  1. Ane Namotemo says:

    Thank you for this Glend, happy can share something 🙂 semoga dapat memberi semangat buat yang mau melanjutkan study

    • admin says:

      Iya, makasih banyak jg k’Ane sdh menyempatkan diri menjawab pertanyaan & informasi yg disampaikan sangat berguna. Good luck utk studi di Australia! S’moga cerita ini menjadi “pembakar” semangat utk anak-anak muda Malut yg ingin melanjutkan kuliah di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *