previous arrow
next arrow
Slider

Amerika Rasa Halmahera

Komitmen KAHERA untuk selalu memberikan informasi yang edukatif juga inspiratif kepada generasi muda di Halmahera atau di Maluku Utara. Di edisi ini kami melakukan wawancara dengan salah satu peneliti konflik di Maluku Utara, pak Christopher Duncan yang juga seorang dosen di Amerika Serikat. Selain melakukan penelitian terkait konflik, pak Chris juga belajar tentang suku Togutil hingga mampu berbicara dalam Bahasa Tobelo. Silahkan simak wawancara eksklusif KAHERA dengan pak Chris.

Mohon diceritakan tentang latar belakang Bapak? Khususnya keluarga dan jenjang pendidikan yang ditempuh?

Saya dibesarkan di Chicago, Amerika Serikat. Orang tua saya dan kakek nenek saya sering pergi ke luar negeri jadi saya sering mendengar tentang perjalanan mereka dan melihat foto-fotonya. Oleh karena itu saya selalu tertarik dengan negara-negara dan kebudayaanya dan saya memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat seperti Asia Tenggara. Saat saya masuk S1, saya mengambil kelas Pengantar Antropologi selama semester pertama. Waktu itu kami membaca sebuah buku tentang Indonesia Timur dan saya sangat menyukainya. Setelah kelas itu saya memutuskan untuk mengambil jurusan Antropologi dan menjadi seorang profesor. Jika seseorang mendapat gelar PhD dalam bidang Antropologi di Amerika biasanya orang tersebut akan menjadi seorang dosen atau profesor di universitas. Bapak saya adalah seorang profesor di kampus bisnis jadi saya dibesarkan di sekitar universitas dan merasakan bahwa menjadi dosen adalah profesi yang paling cocok untuk saya.

Sejauh mana pengetahuan orang-orang Amerika tentang Indonesia?

Kebanyakan orang Amerika hanya tahu sedikit tentang Indonesia. Mungkin mereka pernah mendengar tentang Bali atau Jawa, tetapi sangat jarang mereka tahu tentang Maluku atau Maluku Utara. Orang Amerika cenderung tahu banyak tentang Amerika dan eropa tetapi sangat sedikit pengetahuan mereka tentang Asia atau tempat lain.

Mengapa Bapak tertarik untuk melakukan penelitian di Indonesia, khususnya Maluku Utara?

Saya mengambil jurusan S1 dan jika Anda mengambil mata kuliah Antropologi di Amerika, Anda harus membaca tulisan Cliffords Geertz tentang Indonesia. Akibatnya saya sangat tertarik dengan Indonesia dan membaca banyak buku – buku Antropologi tentang Indonesia. Meskipun demikian saya masih berencana pergi ke Meksiko karena pada waktu itu saya sudah bisa berbahasa Spanyol meskipun hanya sedikit. Tapi diantara S1 dan S2 saya melakukan perjalanan ke Sumatera dan Jawa dan sangat menyukai Indonesia sehingga saya mengubah rencana penelitian saya dan memutuskan untuk bekerja di Indonesia. Keragaman suku dan budaya di Indonesia membuat saya tertarik khususnya adat istiadat suku Toraja di Sulawesi dan suku Dayak di Kalimantan. Saya memilih Maluku Utara karena ingin mempelajari orang yang belum beragama dan orang yang tinggal di hutan Halmahera, juga dikenal sebagai suku Tobelo Dalam. Suku ini salah satu dari sedikit suku tersisa diluar Papua yang masih belum beragama pada waktu itu. Pada saat itu sangat sulit bagi orang Amerika untuk mendapatkan izin penelitian di Papua jadi saya memilih Maluku Utara, khususnya di wilayah Halmahera Tengah.

Bapak telah melakukan banyak penelitian khususnya tentang konflik di Maluku Utara, apa saja masukan – masukan dari Bapak pada anak – anak muda di Maluku Utara dalam menjaga perdamaian di masa yang akan datang?

Saya bukan ahli perdamaian dan rekonsiliasi, tetapi saya menyarankan anak – anak muda di Halmahera untuk memperluas lingkaran sosial mereka untuk memasukan orang dari agama lain. Saya pikir jika ada lebih banyak hubungan dan jaringan antar-agama di Maluku Utara, hubungan antar-agama akan jadi lebih baik di masa depan. Saya juga menyarankan agar anak – anak muda belajar tentang agama lain sehingga mereka mengerti agama tetangga mereka. Pelajari tentang apa yang tetangga percayai dan bagaimana mereka mempraktekan agama untuk lebih memahami peran agama dalam kehidupan dan kepentinganya bagi mereka.

Apa yang paling dirindukan dari Maluku Utara?

Yang paling saya rindukan dari Maluku Utara adalah teman – teman saya di Tobelo, Tanjung Lili, Somaetek dan tempat – tempat lain. Sudah dua tahun sejak terakhir mengunjungi Tobelo dan lebih lama sejak saya mengunjungi Tanjung Lili dan Soamaetek. Saya juga merindukan makanan khas Halmahahera seperti ikan bakar, paruda, daun kasbi, bunga pepaya dan yang lain – lain.

Pak Chris saat memberikan kuliah umum di UNHENA

Pak Chris saat memberikan kuliah umum di UNHENA

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *