previous arrow
next arrow
Slider

Berbangsa = Bertoleransi

Intoleransi? Yupz bener sekali, akhir – akhir ini kata ini seringkali kita dengar maupun baca. Intoleransi adalah suatu sikap yang bertolak belakang dengan harga menghargai atau kebalikkan dari toleransi. Melihat keadaan ini, saya jadi punya suatu referensi diotak untuk menulis. Tak’ terhitung banyak berita yang hampir tiap saat ditonton oleh ribuan pasang mata di seluruh Indonesia berisi intoleransi dan menjadi viral. Tempat ibadah dilarang melakukan kegiatan keagamaan, ditutup, pendiriannya di hadang, bahkan tokoh-tokoh agamapun menjadi korban oleh karena keegoisan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Melihat situasi yang ada, rasanya negara ini tidak lagi “ aman“ padahal negara kita bersimboyan “ BHINEKA TUNGGAL IKA” yang artinya “ BERBEDA-BEDA TETAPI SATU “. Mungkin ini hanya sebatas sebuah simboyan semata, tidak ada penghayatan dalam memaknai simboyan negara kita. Pancasila dan UUD di abaikan, pelanggaran HAM dimana-mana. Tanpa kita sadari, negara ini semakin lama akan semakin terpecah belah oleh orang-orang yang tidak bertanggung – jawab.

Semua agama di dunia ini mengajarkan tentang kebaikkan, tidak ada yang tidak baik. Hanya saja pemeluk agamanya mungkin telah salah menafsirkan setiap ajaran agama yang diterimanya dan menciptakan sikap intoleransi. Ada yang mengganggap bahwa agama A adalah benar dan agama B adalah salah, bahkan sebaliknya, suku A adalah orang baik dan suku B adalah sebaliknya, suatu paradigma berpikir yang sangat keliru. Agama, Suku, Ras dan lain sebagainya sekali lagi tidak pernah salah. Justru yang salah adalah mereka yang menciptakan Intoleran agar golongan masyarakat tertentu merasa “ tidak aman “ entah itu untuk kepentingan pribadi, kelompoknya maupun untuk tujuan politis.

Ilustrasi Toleransi

Intoleransi yang sebenarnya harus dihilangkan, namun sebaliknya masih ada saja orang-orang yang sikapnya bertolak belakang dari simboyan bangsa ini. Kekerasan dan diskriminasi dimana-mana. Istilah seperti “minoritas” maupun “mayoritas” digunakan, padahal sebenernya tidak perlu, bahkan istilah ini bisa menjadi suatu tembok pemisah dan menciptakan sebuah perbedaan. Saya jadi teringat 77 tahun yang lalu, saat narasi Proklamasi dibacakan oleh Bapak Soekarno dan membuat banyak orang menangis haru saat itu sembari mengingat perjuangan besar, dan bersama – sama melawan penjajah tanpa ada tembok pembatas, tanpa memandang apa agamamu, apa sukumu, bagaimana latar belakangmu, bagaimana status sosialmu dan dengan alasan inilah yang dipakai untuk berjuang bersama mencapai kemerdekaan, hingga dapat memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia. Bayangkan saja, bila saat itu intoleransi memecah bela suku bangsa kita dan hanya ada satu suku atau satu agama yang berjuang, apakah kita dapat merdeka seperti sekarang ini? Apakah kita bebas mengeluarkan pendapat? Apakah negara ini bisa seperti sekarang dengan semua pencapaianya? Tentunya tidak, bahkan kemerdakaan masih jauh dari kenyataan tanpa ada suatu persatuan dan kesatuan dari semua penduduk Nusantara.

Berbeda dengan sekarang, Suku, Agama, Ras, Sosial dan Budaya menjadi suatu alasan diciptakannya intoleransi. Negara yang seharusnya dijaga dan dipertahankan malah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kepala negarapun tidak lagi dihargai sebagai seorang pemimpin, peraturan yang dibuat hanya sebatas peraturan saja. Sedih melihat keadaan yang seperti ini. Pelajaran Kewarganegaraan, Ilmu Sosial Budaya hanya sebuah teori tak berarti. Seandainya kita kembali mengoreksi, mengintropeksi, berkaca dan melihat kedalam diri masing-masing, menghayati ke lima sila Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dengan penuh penghayatan, mungkin tak akan ada lagi intoleransi negeri ini. (VSM).

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *