previous arrow
next arrow
Slider

Mengalahkan Corona

Akhir – akhir ini perusahaan tempat saya bekerja menjadi populer di masyarakat Maluku Utara karena jumlah yang terpapar Covid-19 meningkat drastis, 38 orang terkonfirmasi positif melalui tes Polymerase Chain Reaction (PCR) atau biasanya disebut swab/usap, ada 1 yang disebutkan meninggal. Padahal protokol Covid-19 di perusahaan menurut presepsi saya sudah sangat baik dan mungkin terbaik diantara perusahaan-perusahaan swasta di Maluku Utara.

Saya sendiri harus mengikuti 14 hari karantina mandiri di rumah, tambahan 10 hari karantina di hotel dan dua kali rapid test sebelum masuk ke lokasi tambang. Dari awal, di internal perusahaan juga sudah menerapkan prosedur yang ketat, tidak lagi makan di messhall (tempat makan umum) tapi semua makanan di bungkus, makan di kamar, pembagian masker kepada seluruh karyawan, tempat cuci tangan diperbanyak dan seluruh kegiatan kumpul-kumpul termasuk gym juga ditutup, hal ini dilakukan jauh-jauh hari sebelum ada yang terkonfirmasi positif.

Saat teridentifikasi beberapa karyawan yang positif Covid-19, keseluruhan karyawan yang berjumlah sekitar 1.000 orang dirapid tes kemudian diberikan tes PCR jadi ada dua kali tes, termasuk sayapun ikut. Jadi total dalam jangka waktu satu bulan saya 3 kali rapid tes dan 1 kali PCR.

Sebagai informasi kepada Sahabat Kahera, perkiraan harga rapid tes dan pemeriksaan di Maluku Utara:

  1. Lab. Kimia Farma Ternate Rp. 650.000
  2. Prodia Ternate Rp. 849.000
  3. RSUD Tobelo (menyertakan surat dari Satgas Covid-19 Halut) Rp. 550.000

Untuk tes PCR berkisar Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000. Lebih mahal dari rapid tes dan lebih akurat. Ada juga yang digratiskan seperti yang dilakukan oleh Pemda Kab. Halmahera Utara, mungkin bisa dicek di Pemda masing-masing dan sebaiknya ikut rapid sebagai pencegahan.

Memang untuk penerapan protokol Covid-19 yang baik tidak segampang yang kita bayangkan, butuh anggaran besar. Re-alokasi anggaran APBD oleh Pemda Malut saja berkisar 218 miliar untuk penanganan Covid-19. Uang ini jika dibagikan ke penduduk Malut yang berjumlah 1.255.771 jiwa maka per-orang akan dapat sebesar Rp. 173.598. Untuk perusahaan swasta/pengusaha juga sama, anggaran yang harus disiapkan bisa lebih dari 9 digit. Silahkan dikalikan saja, misalnya untuk rapid tes dengan harga rata-rata Rp. 683.000 x 1000 karyawan = Rp. 683.000.000. Itu baru biaya rapid belum biaya PCR, Alat Pelindung Diri (APD), tempat cuci tangan, karantina di hotel, konsumsi, transportasi dsb. Saya merasa sangat beruntung bekerja di perusahaan yang sangat memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan karyawanya.

Kejadian yang terjadi di tempat saya bekerja, adalah pelajaran berharga bukan hanya kepada masyarakat Maluku Utara tapi juga Pemda setempat. Di perusahaan dengan prosedur penanganan keselamatan yang sudah sangat baik tapi masih saja jebol karena karateristik dan penyebaran Covid-19 yang sangat cepat. Bagaimana di masyarakat umum? Sudah berapa banyak dari jumlah populasi kita di Maluku Utara/Halmahera yang mengikuti rapid tes atau PCR? Selain dari prosedur untuk tracing, memang rapid tes akan bermanfaat untuk identifikasi awal bagi yang terpapar, meskipun bukan jaminan akhir keakuratanya.

Dampak dari pandemi ini tidak hanya di perusahaan tempat saya bekerja tapi juga ancamanya di masyarakat dan dalam berbagai sektor, ekonomi, sosial, budaya semuanya akan berubah paska adanya virus Corona. Mungkin kita harus bersiap untuk menjalani hidup bareng Corona selama bertahun-tahun atau istilah diplomatisnya berdamai dengan Corona.

Lalu kapan kita bisa mengalahkan Corona? Salah satu jurnal ilmiah dari Tim Epidimologi Harvard, menyebutkan butuh beberapa tahun bahkan setelah ada imunitas di tubuh untuk melawan virus, kita masih membutuhkan sekitar 5 tahun atau lebih untuk menghilangkan virus ini.

Apakah vaksin bisa didapatkan segera? Saat virus SARS merebak di periode 2002-2003 butuh sekitar 20 bulan untuk proses mendapatkan vaksin. Menurut salah satu pakar pandemi terkemuka di Amerika Serikat, Dr. Anthony S. Fauci butuh sekitar 12-18 bulan untuk mendapatkan vaksin mulai dari penelitian, uji klinis, produksi vaksin hingga distribusi ke masyarakat. Namun di artikel yang sama juga (New York Times) menyebutkan kemungkinan vaksin Covid-19 baru bisa di dapatkan oleh masyarakat luas di bulan Mei tahun 2036. Sahabat Kahera sudah umur berapa saat itu?

Lalu pertanyaanya apa yang harus kita lakukan? karena tidak mungkin diam di rumah bertahun-tahun, syukur-syukur bagi mereka yang sudah menikah, kasihan komunitas jomblo, bisa ada demo besar-besaran di Indonesia dengan hastag #JombloLivesMatter.

Pemerintah sudah menerapkan kebijakan Normal Baru jadi silahkan saja mengikuti protokol pemerintah Indonesia dalam situasi pandemi seperti ini. Untuk kita di Halmahera, angka pengangguran pasti naik, bisnis pasti sedang lesu tapi tidak seburuk mereka yang tinggal di wilayah perkotaan. Kita masih boleh berkebun atau mencari ikan di laut. Mungkin kita kembali ke filosofi hidup orang Halmahera yang memang hidup dan menghargai kelestarian alam juga saling baku-bantu. Mari berkebun, diversifikasi makanan di rumah tidak hanya nasi sebagai sumber karbohidrat tapi juga pisang, kasbi, batata. Usaha juga harus bisa go online untuk meminimalisir kontak langsung dan agar bisnis tetap jalan. Belanja kebutuhan di pasar lokal agar perputaran uang tetap terjadi dan tetap optimisme bahwa kita bisa melalui semua ini.

Kita lakukan yang terbaik dan bersiap untuk segala kemungkinan terburuk. Ada satu kutipan dari film World War Z oleh Garry Lane yang diperankan oleh Brad Pitt yang juga bercerita tentang pandemi virus “If you can fight, then fight and be prepared for anything”. (GYH).

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enter Captcha Here : *

Reload Image