Arrow
Arrow
group-photo-after-journalism-workshop
Slider

Anak Halmahera di Tanah Aborigin (Kunjungan ke-2 di Australia)

Awal bulan Agustus tahun 2010, saya dan teman saya Herlan Salam berkesempatan untuk mengikuti kegiatan pelatihan pemandu wisata di Darwin, Northern Teritorry, Australia yang dikelolah oleh lembaga pelatihan internasional Eco-Training yang sudah berpengalaman bertahun – tahun di negara Afrika. Mereka membuka cabang yang baru di Darwin, Australia dan menyediakan peluang pelatihan gratis untuk mahasiswa atau pengajar. Sewaktu berangkat kesana saya dan Herlan adalah staf di kampus Politeknik Padamara dan melalui komunikasi dengan atasan kami pada waktu itu, Donna, akhirnya kami berangkat. Darwin adalah ibukota dari Northern Teritorry wilayah paling utara dan bagian atas dari benua Australia hal ini yang kerap kali daerah ini disebut sebagai “Top End”. Populasi masyarakat di Darwin berkisar 100 ribu lebih. OK untuk data lengkapnya silahkan teman – teman langsung saja ke Wikipedia karena pasti lebih lengkap, kali ini saya hanya akan membahas melalui pandangan saya sebagai orang Halmahera tentang kota Darwin dan sekitarnya.

Picture 357

Herlan di kota Darwin, Northern Teritory, Australia

Berangkat dari Bali sudah agak sore, kami terbang dengan pesawat Qantas tujuan Darwin dengan lama perjalanan sekitar tiga jam lebih. Awalnya agak ragu – ragu dengan iklim disana karena memang setiap negara bagian di Australia memiliki iklim yang berbeda – beda. Tiba di bandara Darwin International Airport kami sudah dijemput oleh kerabat atasan kami yang tinggal disana, ternyata iklim di Darwin sangat tropis dan persis seperti di Tobelo, Maluku Utara yang mungkin agak beda saat pagi kadang tiba – tiba sangat dingin. Kota Darwin tidak sebesar Melbourne, gedung bertingkatpun terbatas tapi tetap saja sangat rapi dan penduduknya sibuk dengan aktifitas masing – masing pada siang hari. Setelah malam hari sangat ramai khususnya di lokasi bar dan tempat makan di pinggiran jalan kota Darwin. Setelah menginap satu hari di rumah host family kami diantar ke salah satu taman di pusat kota Darwin, disana ternyata sudah ada beberapa orang yang menununggu ada Jhon dari Amerika, Tonni dari Swedia dan kebanyakan pesertanya berasal dari Australia termasuk salah seorang penduduk asli aborigin. Perjalanan ditempuh berkisar 1,5 jam ke lokasi pelatihan sekaligus akomodasi ekowisata yang letaknya di tengah – tengah hutan tapi dengan fasilitas yang mumpuni. Hampir satu bulan kegiatan kami sudah terjadwal, pagi hari bangun jam 05:00, mandi dan langsung ke tempat sarapan. Tempat yang kami tempati berbentuk tenda semi permanen dengan pemandangan alam yang indah, hampir tiap saat kangaroo melewati tenda kami karena di sekelilingnya adalah alam liar. Peserta lain harus membayar dengan biaya yang lumayan mahal namun karena kami mendapatkan beasiswa jadi kami gratis tapi turut membantu pengelolah menyiapkan segala sesuatu, sekalian magang kerja.

Picture 371

Akomodasi untuk tidur di eco-training Australia

Materi yang dipelajari di pelatihan ini bermacam – macam, seperti: astronomy, animals in Australia, field-guiding technique, birds, landscapes, Aboriginal cultures dsb. Dari mulai pagi sampai malam kami disibukan oleh beragam kegiatan yang dimulai dengan kelas dan pengamatan atau praktek langsung di lapangan, hampir tidak ada waktu untuk istirahat kecuali saat malam hari dan memang karena waktu tidur. Kegiatan dibagi atas pemberian materi pada pagi hari dan kunjungan ke lapangan saat siang hari.

Picture 508

Kegiatan belajar di kelas

Sungai kami susuri, rawa, hutan dan dimana saja selama menarik dan bisa menjadi bahan untuk dipresentasikan pada pengunjung, maka kami akan bahas secara bersama – sama. Di hari yang terakhir saat kami ujian, kami diminta untuk memilih topik yang akan dipresentasikan dan berperan sebagai seorang field guide. Saya memilih topik tentang buaya (salt-water and fresh-water crocodiles) dan anyaman khas aborigin dengan menggunakan daun pandan (gen. pandanus), karena kebetulan anyaman ini persis seperti yang ada di daerah saya di Halmahera, Maluku Utara.

Picture 507

Penulis saat persiapan ke lapangan

Selama melakukan kegiatan pelatihan saya mendapatkan banyak pengalaman dan tentunya teman baru. Yang menyenangkan dari kegiatan ini adalah kami menggunakan berbagai macam transportasi yang bagi saya sangat unik dan belum pernah saya naiki sebelumnya, contohnya mobil safari dan perahu khusus untuk daerah perairan yang berawa – rawa karena tentunya kita tidak bisa berjalan kaki, bisa dijadikan makan siang buaya yang lapar.

For Blog

Kegiatan pengamatan lapangan dengan perahu khusus di daerah berawa.

Next post tentang berpetualang di salah satu Taman Nasional terbaik di dunia, Kakadu National Park. (Facebook: Glend)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *